![]() |
| Ketua Selayar Creative Hub (SCH) sekaligus Ketua Peduli Selayar Community (PIS.Com), Supardi Idris, Foto: Redaksi bicarabaik |
Selain lama menjadi favorit di kawasan Timur Tengah untuk kebutuhan shisha, pasar briket asal Indonesia kini makin meluas hingga ke Amerika, Australia, Eropa, dan Asia. Tak hanya unggul karena ramah lingkungan dan berdaya tahan lama, pengolahan limbah tempurung kelapa menjadi briket maupun karbon aktif terbukti memberikan nilai tambah yang sangat tinggi—jauh melampaui nilai jual kelapa bulat biasa—sehingga berpotensi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Salah satu wilayah dengan potensi besar tersebut adalah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Daerah yang dikenal sebagai salah satu penghasil kopra utama ini dahulu dijuluki kawasan Nyiur Indah. Kejayaan kelapa Selayar bahkan pernah disematkan istilah "The Green Gold of Selayar" (Emas Hijau dari Selayar) oleh pemerhati budaya asal Belanda, Mr. Christiaan Heersink.
Ketua Selayar Creative Hub (SCH) sekaligus Ketua Peduli Selayar Community (PIS.Com), Supardi Idris, menyampaikan bahwa seiring perkembangan zaman, pemanfaatan kelapa kini tidak lagi terbatas pada daging kelapa atau kopra semata. Batok kelapa yang dahulu diabaikan, kini dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif ramah lingkungan pengganti gas.
"Selayar sudah lama mengirim pasokan kelapa ke berbagai daerah seperti Surabaya, Manado, Ambon, hingga diekspor ke India. Namun, baru beberapa tahun terakhir ini masyarakat menyadari betapa besarnya potensi tempurung kelapa yang dulunya dianggap limbah tak bernilai. Ketika diolah secara modern, produk ini menjadi incaran pasar mancanegara karena kualitasnya yang unggul," ujar Supardi saat ditemui Tim Redaksi bicarabaik di kediamannya, Jl. Hati Mulia No. 7, Benteng, Jum'at 28/8/2026.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran industri pengolahan briket arang kelapa ini sangat sejalan dan bersinergi langsung dengan program pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, yakni program GEMERLAP.
lebih lanjut, Supardi menambahkan bahwa kehadiran industri briket arang kelapa membuktikan bagaimana inovasi lokal mampu memperkuat fondasi ekonomi desa, daerah, hingga tingkat nasional:
Skala Makro: Industri ini mendorong diversifikasi ekspor dan memperkuat daya saing Indonesia sebagai produsen utama produk turunan kelapa bernilai tinggi.
Skala Mikro: Membuka peluang usaha baru, menyerap tenaga kerja lokal, dan memicu transfer teknologi berbasis kearifan lokal.
Dengan mengalirnya dukungan kebijakan hilirisasi dari pemerintah, kesiapan pelaku industri, serta tren kenaikan permintaan global terhadap produk ramah lingkungan, prospek komoditas ini dinilai kian benderang.
"Jika pada masa kejayaan kelapa di masa lalu Christiaan Heersink menyebutnya 'The Green Gold of Selayar', kini saya menyebutnya 'The Black Gold of Selayar'—Emas Hitam dari Selayar," pungkas Supardi.

Berita Terbaru