![]() |
| Potret Akbar putra, Dok: Istimewa |
Bicarabaik | Kepulauan selayar — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia telah dilewati. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari upacara, pengibaran bendera, perlombaan masyarakat, hingga berbagai kegiatan yang kembali menghidupkan semangat perjuangan di tengah masyarakat.
Namun, setelah seluruh rangkaian peringatan tersebut selesai, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: setelah peringatan kemerdekaan ke-81, lalu apa?
Pertanyaan tersebut menjadi refleksi Akbar Putra dalam melihat kembali makna kemerdekaan setelah 81 tahun Indonesia merdeka.
Menurut Akbar, kemerdekaan tidak semestinya hanya dimaknai sebagai momentum tahunan yang dirayakan melalui upacara dan seremoni. Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat perjalanan bangsa, sekaligus mengevaluasi ke mana arah negara sedang berjalan.
“Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati. Kemerdekaan adalah tanggung jawab yang harus terus diisi,” demikian pandangan Akbar Putra.
Ia menilai, jika para pendiri bangsa dahulu berjuang untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan, maka generasi hari ini memiliki bentuk perjuangan yang berbeda.
Perjuangan tersebut, menurutnya, antara lain menghadapi kemiskinan, ketimpangan, korupsi, ketidakadilan, rendahnya kualitas pendidikan, lemahnya pelayanan publik, pengangguran, serta berbagai persoalan sosial yang masih membelenggu masyarakat.
Karena itu, Akbar berpandangan bahwa peringatan kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada seremoni. Momentum tersebut harus menjadi ruang evaluasi kebangsaan.
Sejumlah pertanyaan pun perlu diajukan. Apakah pembangunan sudah benar-benar dirasakan masyarakat? Apakah pendidikan semakin mudah diakses dan semakin berkualitas? Apakah pelayanan kesehatan semakin manusiawi? Apakah masyarakat kecil mendapatkan ruang yang cukup untuk tumbuh secara ekonomi?
Pertanyaan lainnya adalah apakah hukum benar-benar berdiri di atas keadilan dan apakah kebijakan negara hari ini benar-benar berorientasi pada kepentingan rakyat.
Menurut Akbar, pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan dimaksudkan untuk meniadakan rasa syukur atas kemerdekaan.
Justru sebaliknya, cara terbaik menghormati kemerdekaan adalah memastikan bahwa kemerdekaan memberikan makna nyata dalam kehidupan rakyat.
Kemerdekaan Harus Dirasakan Setiap Hari
Akbar juga menilai masyarakat terlalu mudah terjebak dalam simbol. Masyarakat bangga dengan Merah Putih, tetapi terkadang lupa bahwa Merah Putih juga membawa mandat moral, yakni keberanian memperjuangkan kebenaran dan kesucian dalam menjalankan kehidupan berbangsa.
Begitu pula dengan lagu-lagu perjuangan yang dinyanyikan penuh semangat. Jangan sampai semangat tersebut ikut berakhir setelah upacara selesai.
Menurutnya, kemerdekaan seharusnya hadir setiap hari.
Kemerdekaan hadir ketika seorang anak dari keluarga sederhana memperoleh pendidikan yang layak. Kemerdekaan hadir ketika nelayan mendapatkan akses ekonomi yang adil. Kemerdekaan hadir ketika petani memperoleh kepastian atas hasil produksinya.
Kemerdekaan juga hadir ketika pelaku UMKM mampu bertahan dan berkembang, serta ketika masyarakat mendapatkan pelayanan publik tanpa dipersulit.
Lebih dari itu, kemerdekaan hadir ketika seorang warga berani menyampaikan kritik tanpa takut dibungkam, ketika hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta ketika jabatan publik benar-benar dipahami sebagai amanah, bukan sekadar kekuasaan.
81 Tahun Merdeka, Apa yang Belum Selesai?
Menurut Akbar, 17 Agustus seharusnya bukan hanya menjadi hari untuk mengenang bagaimana Indonesia merdeka, tetapi juga momentum untuk bertanya apakah kemerdekaan telah dijalankan dengan benar.
Delapan puluh satu tahun merupakan perjalanan panjang. Bangsa Indonesia telah melewati berbagai perubahan, krisis, konflik, pergantian pemerintahan, perubahan kebijakan, hingga transformasi teknologi dan sosial.
Karena itu, menurutnya, masyarakat tidak boleh hanya bertanya:
“Apa yang sudah kita bangun?”
Tetapi juga harus bertanya:
“Apa yang belum selesai?”
Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang merasa seluruh persoalannya telah selesai, melainkan bangsa yang berani mengakui kekurangan, melakukan evaluasi, kemudian memperbaiki arah.
Seremoni Boleh Selesai, Evaluasi Jangan Berhenti
Setelah Merah Putih diturunkan dari tiang upacara, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Namun, semangat kemerdekaan seharusnya tidak ikut diturunkan.
“Seremoni boleh selesai. Evaluasi jangan berhenti,” tegas Akbar.
Menurutnya, kemerdekaan bukan titik akhir dari perjuangan. Kemerdekaan merupakan awal dari tanggung jawab panjang untuk memastikan bahwa negara benar-benar hadir, bekerja, dan memberikan keadilan bagi seluruh rakyatnya.
Setelah Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan, pertanyaan terbesar bukan lagi sekadar, “Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?”
Melainkan:
“Sudah sejauh mana kemerdekaan itu benar-benar dirasakan oleh rakyat?”

Berita Terbaru