Pernyataan tersebut disampaikan GKR Hemas saat membuka Pelatihan Konten Media Digital bertajuk “Ngonten Kreatif & Seni Bercerita Digital Melalui Smartphone” di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Acara yang digagas bagi tenaga ahli DPD RI dalam wadah FOKUS DPD RI ini diikuti oleh lebih dari 300 peserta.
"Jangan sampai staf baru mengetahui sebuah isu setelah isu tersebut menjadi viral. Jangan sampai kita baru memahami persoalan setelah masyarakat ramai membicarakannya. Kita harus lebih dahulu membaca, memahami, memantau, dan melaporkan kepada Bapak/Ibu Anggota DPD RI sebagai langkah awal antisipasi," ujar GKR Hemas.
Substansi di Atas Sekadar Kreativitas
Sebagai lembaga representasi daerah yang anggotanya dipilih langsung dari tiap provinsi, DPD RI membawa aspirasi lokal ke tingkat nasional. GKR Hemas menilai karakter khusus ini menuntut kerja komunikasi publik yang berbobot agar masyarakat paham relevansi peran DPD RI terhadap kepentingan mereka.
* Penguasaan Materi: Keterampilan visual tidak boleh berdiri sendiri tanpa kepekaan terhadap kebijakan pemerintah dan isu perjuangan lembaga.
* Prinsip Bersama: Pemahaman isu strategis daerah wajib dimiliki seluruh unsur pendukung Anggota DPD RI, bukan sekadar tim media.
* Narasi yang Kuat: Komunikasi publik harus berakar dari pemahaman persoalan agar informasi yang disampaikan tepat sasaran.
"Jangan sampai kita pandai membuat konten tetapi tidak cukup memahami apa yang sedang diperjuangkan. Kreativitas tidak boleh berjalan sendiri, harus berjalan bersama substansi dan kehati-hatian," tegas Senator dari DI Yogyakarta tersebut.
Tantangan Era Digital & Penggunaan AI
Menghadapi derasnya arus informasi—mulai dari maraknya narasi keliru, potongan video lepas konteks, hingga judul berumpan klik (clickbait)—GKR Hemas mengingatkan pentingnya verifikasi. Penggunaan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dapat membantu mempercepat pekerjaan, namun tanggung jawab verifikasi tetap berada di tangan manusia guna memastikan informasi yang disampaikan benar, relevan, proporsional, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui pelatihan yang membekali peserta dengan materi copywriting, komunikasi publik, visualisasi data aspirasi, sinematografi, hingga retensi audiens ini, para staf diharapkan tidak hanya lihai memproduksi visual saat turun ke lapangan, tetapi juga mampu menyerap aspirasi dan mengawal isu-isu strategis daerah.

Berita Terbaru